Gapura desa yang menuliskan motto Anda datang senang, pulang tambah pintar adalah motto Desa Wisata Kembang Arum. Sebuah desa yang berjarak 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Memasuki desa ini, anda akan disambut dengan perkebunan salak yang tertata rapi serta yang berada di pinggir jalan desa ini. Keindahan tidak berakhir pada perkebunan salak ini, sawah hijau terbentang, sungai dengan air jernih dan udara yang segar.

Memanfaatkan tanah seluas 22 hektar yang terdiri dari tanah warga, kas desa dan milik sanggar Pratista, Pak Hery Kustriyatmo sebagai pengelola mampu menggerakkan ekonomi lokal dengan merespon potensi alam yang ditata dengan indah sehingga desa ini sudah didatangani sekitar 65.000 orang baik wisnu maupun wisman.

Hal ini membuktikan bahwa pedesaan mempunyai potensi wisata tersendiri. Dan program desa wisata pun digalakkan untuk mengopimalkan potensi pedesaan. Hal ini sesuai dengan konsep sustainable development yang bisa diartikan sebagai pengelolaan yang baik mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan manusia untuk meningkatkan gaya hidup dan memelihara sumber daya alam dan ekosistem tempat kita dan generasi beikutnya bergantung. Sustainable development merupakan pertumbuhan ekonomi bersama-sama dengan perlindungan atas kualitas lingkungan yang saling mendukung satu sama lain. Implikasi konsep ini harus melibatkan kerjasama antar inisiator dengan warga masyarakat yang menempati lingkungan tersebut. (Mintzer, 1992, dikutip dari http://www.gdrc.org/sustdev/definitions.html)

Awal mula Desa Wisata Kembang Arum

Awal mula ide pembuatan desa wisata ini berawal dari ketika itu istri Pak Hery ingin mencari rumah, dari pencarian tersebut dilalui dengan berjalan-jalan sampai satu rumah yang ada di Kembang Arum. Meminjam istilah yang namanya jodoh tidak lari kemana rumah yang dulunya milik salah satu warga desa tersebut akhirnya bisa menjadi milik Pak Hery. Rumah baru tersebut dijadikan beliau menjadi Sanggar Lukis Prastita. Bermula dari sanggar ini Pak Hery menangkap potensi dari Desa Kembang Arum dan berkembanglah ide beliau untuk menjadikannya desa wisata.

Dengan daya kreatifitas dan kemauan yang tinggi Pak Heri sebagai inisiator mampu mengajak warga setempat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh desanya tersebut. Jauh sebelum berkembang seperti sekarang ini, Desa Kembang Arum termasuk salah satu desa termiskin atau tertinggal yang berada di wilayah Kabupaten Sleman. Kebersamaan dan keinginan untuk memajukan desa ini pengelola dan warga setempat membuat desa termiskin itu kini menjdi Desa Wisata Kembang Arum yang dikagumi dan didatangi banyak orang.

Semua permulaan adalah kesulitan, itulah filosofi yang dilalui semua pelopor untuk melakukan perbaikan baik dalam dirinya maupun lingkungan sekitar. Hal tersebut dialami Pak Hery sebagai salah satu pelopor dalam menelorkan idenya untuk mengembangkan Desa Kebun Arum menjadi desa wisata. Secara perlahan beliau melakukan pendekatan kepada kelompok masyarakat Desa Kembang Arum (kumpulan sesepuh, bapak-bapak, ibu-ibu PKK, dan Karangtaruna). Sambutan hangat serta apresiasi positif warga menjadikan semacam amunisi Pak Hery bersama teman-temannya untuk terus mengembangkan desa Kembang Arum menjadi desa wisata sekarang ini.

Hambatan tidak terus berhenti ketika Pak Hery dan tim mendapatkan restu dari warga, masalah klasik tentang pembiayaan atau dana pembangunan pun tetap mengikuti. Dana awal untuk pembangunan desa ini berasal dari kas Sanggar Pratista yang dikelola Pak Hery, anggaran dari warga sendiri tidak tersedia. Keterbatasan dana pun disikapi dengan melakukan pembangunan secara bertahap dan berkesinambungan yang pada akhirnya bisa sampai sekarang ini.

Saya menggunakan filosofi jawa, Wong Tekun mesti Tekan, dari filosofi tersebut akhirnya saya bersama teman-teman bisa sampai tahap sekarang ini, memberikan manfaat bagi orang di sekiling kita, ujarnya.

Hambatan yang lain adalah pengaruh di bidang sosial dari masyarakat terutama pada generasi mudanya. Pada umumnya para pemuda di desa ini mulai meninggalkan kegiatan bertani dan bercocok tanam sehingga kemampuan mereka pun turun secara drastis dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Untuk menanggulangi hal ini, dibuatlah sarana untuk tetap menjaga minat warga akan potensi desa mereka dan menjaga nilai-nilai. Kendala yang lain juga ada seperti pengaruh dari pihak luar seperti contohnya orang-orang yang ingin membeli tanah di desa ini untuk dijadikan hunian pribadi dirasa sedikit mengganggu perkembangan desa ini.

Kegiatan-kegiatan dalam desa wisata ini banyak melibatkan peran masyarakat Kembang Arum sendiri. Dengan melibatkan warga secara langsung, hal ini menjadikan warga lokal sebagai tuan rumah di negerinya sendiri serta mampu menciptakan rasa memiliki terhadap desanya sendiri. Sebagai pengelola, Pak Hery pun melibatkan warga sekitar untuk berpartisipasi secara aktif. Paket acara wisata yang masuk dalam agenda kegiatan Desa Wisata Kembang Arum pun berasal dari kegiatan sehari-hari warga yang dilakukan secara inisiatif oleh warga sendiri.

Banyak kegiatan yang telah kami lakukan untuk meningkatkan kunjungan di desa kami ini. Salah satunya Festifal Pijat Massal, warga bertindak sebagai pemijat dan pengunjung menjadi pasien kami, sederhana dan merekatkan hubungan satu dengan lainnya. Secara ekonomi warga mendapatkan tip secara langsung dari festifal tersebut, ungkap Pak Saiman salah satu warga.

Prestasi yang pernah diraih desa ini juga tidak sedikit. Keberhasilan tersebut antara lain juara 1 Hatinya PKK Tingkat Kabupaten, juara 1 Kebersihan dan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional, juara 1 Pembuatan Jamu se-Kabupaten Sleman (Jamu Pulih Raga), juara 1 Lomba Desa Wisata tahun 2008 se-Kabupaten Sleman, juara 1 Penampilan Seni Budaya dan Pameran Kabupaten Sleman. Dalam waktu yang cukup singkat, mereka telah bisa meraih semua ini. Prestasi-prestasi ini menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan oleh inisiator dan masyarakat setempat telah mengalami keberhasilan.

Hal ini juga tidak lepas dari pengawasan Pak Hery. Untuk kontrol dan pengawasan, Pak Hery dibantu oleh 5 tim kreatif yang salah satunya adalah Pak Marsaid yang sekarang menjadi ketua pariwisata di desa ini. Selain itu, Pak Hery juga hampir tiap hari datang ke desa ini. Jika ada laporan apapun tentang perkembangan desa maka harus disampaikan secepatnya ke Pak Hery. Dengan pengawasan yang seperti ini, kesinambungan pengembangan Desa Wisata Kembang Arum akan terjaga. Selain itu juga akan mendatangkan keuntungan pada penduduk baik dalam bidang ekonomi maupun pendidikan sosial budaya. Dengan begitu, penduduk bisa bertahan untuk tetap aktif dalam mengembangkan desa mereka secara berkesinambungan sehingga sustainable development bisa terwujud sesuai keinginan masyarakat dan inisiator.