Seperti namanya, Gunung Pendem merupakan gunung batu yang terpendam oleh tanah dan ditumbuhi pepohonan rimbun. Berada diketinggian 300 mdpl, Gunung Pendem menyuguhkan pemandangan yang tak kalah indah dari bukit-bukit yang ada digugusan pegunungan Api Purba  Nglanggeran. Lokasinya yang berada di belakang Taman Teknologi Pertanian dan berdekatan dengan Gunung Api Purba Nglanggeran membuat pemandangan di puncak Gunung Pendem sangat indah. Untuk mencapai puncak Gunung Pendem, wisatawan membutuhkan sekitar 10-15 menit berjalan kaki atau tracking.

Dibalik keindahannya, Gunung Pendem menyimpan cerita legenda yang dipercaya oleh masyarakat sekitar. Di Gunung Pendem ini terdapat seperangkat gamelan gaib dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya. Dahulu ada seorang sesepuh desa Nglanggeran yang pernah mengambil gamelan tersebut melalui ritual khusus. Gamelan tersebut kemudian digunakan untuk musik pengiring tarian Tayub yang dipentaskan dalam upacara Rasulan/Bersih Desa.

Setelah upacara Rasulan selesai, sesepuh tersebut mengembalikan gamelan gaib itu pada tempatnya semula. Namun suatu ketika ada orang jail yang mengolesi salah satu gamelan dengan Dubang (Ludah merah bekas mengunyah sirih) sehingga gamelan gaib tersebut tidak bisa diambil kembali sampai sekarang. Sebagai bukti keberadaan gamelan gaib tersebut, di tengah Gunung Pendem terdapat Pohon Bibisan yang batangnya membelok horizontal. Masyarakat percaya bahwa batang pohon Bibisan yang membelok itu diakibatkan oleh sebuah gong dari gamelan gaib yang menggantung di pohon tersebut.


Gunung Pendem and Mystical Gamelan

As the name suggests, Gunung Pendem (Mount Pendem/buried) is a rocky mountain concealed beneath the earth and covered with lush vegetation. Located at an altitude of 300 meters above sea level, Gunung Pendem offers equally stunning views as the other hills within the Nglanggeran Ancient Volcano cluster. Its location behind the Agricultural Technology Park and close to the Nglanggeran Ancient Volcano makes the view from the summit of Gunung Pendem exceptionally beautiful. To reach the peak of Gunung Pendem, it takes about 10-15 minutes of walking or trekking.

Behind its beauty, Gunung Pendem holds a legendary tale believed by the local community. Within Gunung Pendem, there is a set of mystical gamelans (Javanese music instruments) that only certain individuals can see. In the past, an elder from the Nglanggeran village performed a special ritual to obtain these mystical gamelan instruments. These gamelan instruments were then used for accompanying the Tayub dance during the Rasulan or village cleaning ceremony. After the Rasulan ceremony concluded, the elder returned the mystical gamelan to its original place. However, at one point, a mischievous person smeared one of the gamelan instruments with Dubang (red saliva from chewing betel nut), preventing it from being retrieved again. As a result, the mystical gamelan remains inaccessible to this day. As evidence of the existence of these mystical gamelan instruments, there is a Bibisan tree in the middle of Gunung Pendem with a horizontal bend in its trunk. The community believes that the bent tree was caused by a gong (cymbal-like insrument) from the mystical gamelan hanging on the tree.