keraton (foto: menujuhijau.blogspot.com)

Keraton Yogyakarta sebagai salah satu pilar utama berdirinya Republik Indonesia tentunya memiliki sejarah panjang perjuangannya dari era Kolonial hingga sekarang ini. Sejarah panjang tersebut tentunya berguna bagi masa depan generasi muda untuk bisa mengetahui serta memahani perjuangan yang telah dilakukan. Oleh karena itu Keraton Yogyakarta sebagai institusi budaya dan perjuangan bangsa berkewajiban mendokumentasikan perjuangannya kepada masyarakat dengan membangun wisata museum sebagai pusat dokumentasi sejarah perjuangan Keraton Yogyakarta.

Rintisan awal berdirinya Museum Keraton Yogyakarta dimulai pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VII dan Sri Sultan HB VIII. Pembangunan museum Keraton Yogyakarta pada masa tersebut tidak terlepas dari kebangkitan ekonomi keraton yang berhasil mengolah beberapa pabrik gula yang dimilikinya.

Pada era pemerintahan Sri Sultan HB IX, wewenang pengelolaan Museum Keraton Yogyakarta diserahkan kepada Parentah Luhur Keraton, dalam tugasnya lembaga ini sempat mengalami pergantian nama Kawedanan Kori, dan Tepas Dwara Pura hingga sekarang ini.

Museum Keraton Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 14.000 m2, bangunan berarsitektur khas Jawa ini memiliki berbagai macam koleksi mulai dari peralatan rumah tangga, keris, tombak, wayang, gamelan, naskah kuno, foto dan lukisan diantaranya ada yang berusia sampai 200 tahun.

Banyaknya koleksi yang dimiliki oleh museum Keraton Yogyakarta, perlengkapan jumenengan atau penobatan raja paling banyak menarik perhatian pengunjung di tempat ini. Peralatan atau ubo rampe penobatan raja terdiri dari dalang, sawung, galing, hardawalika, kutuk, kandil, kacu mas, dan cepuri yang dibuat dari bahan kuningan sehingga semua peralatan tersebut berwarna kuning keemasan.

Koleksi benda-benda pusaka milik Museum Keraton Yogyakarta terbuat dari berbagai macam bahan baku mulai dari, dari perunggu, kayu jati, kertas, kaca besi dan kulit.

Keraton memiliki beberapa museum yang lebih dikenal dengan Museum Keraton Yogyakarta, yang didalamnya terdapat museum, Lukisan, Keraton, Hamengku Buwono IX dan museum Kereta, Museum Hamengku Buwono IX terletak dalam kompleks Keraton yang didalamnya berisi benda-benda yang pernah digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, termasuk perlengkapan fotografi, Kyai Garuda Yeksa kereta yang digunakan untuk kirab upacara penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VI-X; Kyai Jaladara digunakan tugas keliling desa; Kyai Kanjeng Jimat digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai III untuk acara Garebeg atau menjemput tamu-tamu khusus.