Sebagai salah satu kota tua di Indonesia yang masih tetap hidup dengan dinamika yang berkembang, baik kehidupan masyarakat dan budayanya Yogyakarta masih menyimpan beberapa peninggalan sejarah yang melingkupi kehidupan masyarakat sehari-hari yaitu penamaan sebuah daerah berdasarkan sejarah tempat tersebut atau disebut dengan toponim.

Salah satu ciri yang dimiliki oleh kota-kota kuno itu dapat dilacak keberadaannya melalui penamaan sebuah daerah atau kampung berdasarkan profesi para penduduk dari kampung tersebut. Dan penamaan dari daerah tersebut memiliki keseragaman yaitu selalu di akhiri kata -an, misal Patangpuluhan, Bugisan dan Daengan. Ketiga nama tersebut adalah wilayah atau tempat yang jaman dulunya dihuni oleh para prajurit Kraton dari kesatuan atau Bregada Patangpuluh, Bugis dan Daeng.

Melalui artikel kali ini, tim redaksi kotajogja.com akan mengajak para pembaca untuk menyelami sejarah penamaan kampung-kampung atau wilayah yang berada di Kota Jogja berdasarkan profesinya sebagai bregada atau prajurit Kraton Yogyakarta.

Nama-nama Wisata kampung Bregada Kraton

Kampung Bugisan

Wilayah ini dinamakan Bugisan karena jaman dahulu di wilayah ini banyak ditempati anggota prajurit atau bregada dari kesatuan Bugis. Nama Bugis berasal kata bahasa Bugis. Prajurit Bugis sebelum masa Hamengku Buwono IX bertugas di Kepatihan sebagai pengawal Pepatih Dalem. Semenjak zaman Hamengku Buwono IX ditarik menjadi satu dengan prajurit kraton, dan dalam upacara Garebeg bertugas sebagai pengawal gunungan. Secara filosofis Prajurit Bugis bermakna pasukan yang kuat, seperti sejarah awal mula yang berasal dari Bugis, Sulawesi.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Bugis adalah Wulan-dadari, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna kuning emas. Wulan-dadari berasal dari kata wulan berarti bulan dan dadari berarti mekar, muncul timbul. Secara filosofis bermakna pasukan yang diharapkan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan, ibarat berfungsi seperti munculnya bulan dalam malam yang gelap yang menggantikan fungsi matahari.

Kampung Dahengan

Nama Dhaeng berasal dari bahasa Makasar sebagai sebutan gelar bangsawan di Makasar. Secara filosofis Dhaeng bermakna prajurit elit yang gagah berani seperti prajurit Makasar pada waktu dahulu dalam melawan Belanda.Menurut sejarah, prajurit Dhaeng adalah prajurit yang didatangkan oleh Belanda guna memperkuat bala tentara R.M. Said. R.M. Said kemudian berselisih dengan P. Mangkubumi. Padahal kedua tokoh ini semula bersekutu melawan Belanda. Puncak atas perselisihan itu adalah perceraian R.M. Said dengan istrinya. Istri R.M. Said adalah putri Hamengku Buwono I. Pada waktu memulangkan istrinya, R.M. Said (P. Mangkunegara) khawatir jika nanti Hamengku Buwono I marah. Guna menjaga hal yang tidak diinginkan, kepulangan sang mantan istri, Kanjeng Ratu Bendara diminta agar diiringkan oleh pasukan pilihan, yaitu prajurit Dhaeng. Setelah sampai di Kraton Yogyakarta, justru disambut dengan baik. Prajurit Dhaeng diterima dengan tangan terbuka, disambut dengan baik. Atas keramahtamahan itu prajurit Dhaeng kemudian tidak mau pulang ke Surakarta. Mereka kemudian mengabdi dengan setia kepada Hamengku Buwono I. Laskar Dhaeng kemudian oleh Hamengku Buwono I diganti menjadi Bregada Dhaeng.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Dhaeng adalah Bahningsari, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, di tengahnya adalah bintang segi delapan berwarna merah. Bahningsari berasal dari kata bahasa Sansekerta bahning berarti api dan sari berarti indah / inti. Secara filosofis bermakna pasukan yang keberaniannya tidak pernah menyerah seperti semangat inti api yang tidak pernah kunjung padam.

Secara administrasi Kampung Dhaengan berada di dalam wilayah Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron. Kelurahan Gedongkiwo terdiri dari tiga, Suryowijayan, Gedongkiwo, dan Dukuh, Kelurahan Gedongkiwo terdiri dari 18 RW (Rukun Warga).

Kampung Jogokaryan

Prajurit Jagakarya berasal kata jaga dan karya. Kata jaga berasal bahasa Sansekerta berarti menjaga, sedangkan karya dari bahasa Kawi berarti tugas, pekerjaan. Secara filosofis Jagakarya bermakna pasukan yang mengemban tugas selalu menjaga dan mengamankan jalannya pelaksanaan pemerintahan dalam kerajaan.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Jagakarya adalah Papasan, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar merah, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna hijau. Papasan berasal dari kata nama tumbuhan atau burung papasan. Pendapat lain Papasan berasal dari kata dasar papas menjadi amapas yang berarti menghancurkan (Wojowasito, 1977:190). Secara filosofis papasan bermakna pasukan pemberani yang dapat menghancurkan musuh dengan semangat yang teguh.

Kampung Jogokaryan adalah salah satu kampung yang berada di wilayah administrasi Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron. Kampung Jogokarya memiliki acara tahunan yang menjadi salah satu agenda wisata religius di DIY, yaitu Kampoeng Ramadhan Jogokaryan.

Kampung Ketanggungan

Nama Ketanggung berasal kata dasar tanggung mendapatkan awalan ke-. Kata tanggung berarti beban, berat1. Sedangkan ke- di sini sebagai penyangatan sangat. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan dengan tanggung jawab yang sangat berat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Puliyer (Wirawicitra / Wirawredhatama / Operwachmester).

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Ketanggung adalah Cakra-swandana, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah gambar bintang bersegi enam dengan warna putih. Cakra-swandana berasal dari bahasa Sansekerta cakra (senjata berbentuk roda bergerigi) dan kata Kawi swandana yang berarti kendaraan/kereta. Secara filosofis Ketanggung bermakna pasukan yang membawa senjata cakra yang dahsyat yang akan membuat porak poranda musuh.

Kampung Ketanggungan berada di wilayah administrasi Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan. Kampung ini memiliki ciri khas yang unik dan menjadi salah satu trade mark dari wilayah ini. Nama jalan yang masuk di wilayah kampung ini menggunaka nama tokoh pewayangan seperti, Jl Pandu, Sadewa dan masih banyak lagi.

Kecamatan Mantrijeron

Nama Mantrijero berasal kata mantri dan jero. Kata mantri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti juru bicara, menteri, jabatan di atas bupati dan memiliki wewenang dalam salah satu struktur pemerintahan. Sedangkan jero berarti dalam. Secara harfiah kata Mantrijero berarti juru bicara atau menteri di dalam Secara filosofis Mantrijero bermakna pasukan yang mempunyai wewenang ikut ambil bagian dalam memutuskan segala sesuatu hal dalam lingkungan Kraton (pemutus perkara).

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Mantrijero adalah Purnamasidhi, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna putih. Purnamasidhi berasal dari kata Sansekerta, yaitu purnama berarti bulan penuh dan kata siddhi yang berarti sempurna. Secara filosofis Purnamasidhi bermakna pasukan yang diharapkan selalu memberikan cahaya dalam kegelapan.

Saat ini nama prajurit Mantrijero menjadi wilayah kecamatan Mantrijeron di bawah wilayah administrasi Pemerintahan Kota Yogyakarta.

Kampung Nyutran

Nama Nyutra berasal kata dasar sutra mendapatkan awalan N. Kata sutra dalam bahasa Kawi berarti 1) unggul, 2) lulungidan (ketajaman), 3) pipingitan/sinengker (Winter, K.F., 1928, 233,266); sedang dalam bahasa Jawa Baru berarti bahan kain yang halus; sedangkan awalan N- berarti tindakan aktif sehubungan dengan sutra. Prajurit Nyutra merupakan prajurit pengawal pribadi Sri Sultan. Prajurit ini merupakan kesayangan raja, selalu dekat dengan raja. Secara filosofis Nyutra bermakna pasukan yang halus seperti halusnya sutera yang menjaga mendampingi keamanan raja, tetapi mempunyai ketajaman rasa dan ketrampilan yang unggul. Itulah sebabnya prajurit Nyutra ini mempunyai persenjataan yang lengkap (tombak, towok dan tameng, senapan serta panah/jemparing). Sebelum masa Hamengku Buwono IX, anggota Prajurit Nyutra diwajibkan harus bisa menari.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Nyutra adalah Podhang ngingsep sari dan Padma-sri-kresna. Podhang ngingsep sari untuk Prajurit Nyutra Merah, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna merah. Padma-sri-kresna untuk Prajurit Nyutra Hitam berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna hitam.

Kampung Nyutran memiliki keistimewaan berupa berdirinya Museum Kirti Griya, rumah dari Ki Hadjar Dewantara yang menjadi saksi perjuangan beliau melalui jalur pendidikan, lokasi kampung ini berada di Jalan Tamansiswa Yogyakarta.

Kampung Patangpuluhan

Mengenai asal usul nama Patangpuluh sampai sekarang belum ada rujukan yang dapat menjelaskan secara memuaskan. Nama Patangpuluh tidak ada hubungannya dengan jumlah anggota bregada.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Patangpuluh adalah Cakragora, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah bintang segi enam berwarna merah. Cakragora berasal dari kata bahasa Sansekerta cakra senjata berbentuk roda bergerigi dan gora, juga dari bahasa Sansekerta berarti dahsyat, menakutkan. Secara filosofis bermakna pasukan yang mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, sehingga segala musuh seperti apa pun akan bisa terkalahkan.

Untuk saat ini Patangpuluhan menjadi sebuah kelurahan di bawah kecamatan Wirobrajan, dan Patangpuluhan menjadi ibukota Kecamatan karena pusat kecamatan dan puskesma utama berada di wilayah ini.

Kampung Prawirotaman

Nama Prawiratama berasal kata prawira dan tama. Kata prawira berasal dari bahasa Kawi berarti berani, perwira, prajurit, sedangkan tama atau utama bahasa Sansekerta yang berarti utama, lebih; dalam bahasa Kawi berarti ahli, pandai. Secara filosofis Prawiratama bermakna pasukan yang pemberani dan pandai dalam setiap tindakan, selalu bijak walau dalam suasana perang.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Prawiratama adalah Geniroga, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna merah. Geniroga berasal dari kata gent berarti api, dan kata Sansekerta roga berarti sakit. Secara filosofis bermakna pasukan yang diharapkan dapat selalu mengalahkan musuh dengan mudah.

Kawasan ini dikenal sebagai daerah kampung wisata internasional dimana di sini terdapat banyak hotel serta motel dan galeri yang banyak disinggahi wisatawan mancanegara dari berbagai negara di dunia.

Kampung Surokarsan

Nama Surakarsa berasal dari kata sura dan karsa. Kata sura berasal dan bahasa Sansekerta berarti berani, sedangkan karsa berarti kehendak. Dahulu Prajurit Surakarsa bertugas sebagai pengawal Pangeran Adipati Anom / Putra Mahkota; bukan bagian dari kesatuan prajurit kraton. Secara filosofis Surakarsa bermakna pasukan yang pemberani dengan tujuan selalu menjaga keselamatan putra mahkota. Sejak masa Hamengku Buwono IX, pasukan ini dijadikan satu dengan prajurit kraton dan dalam upacara Garebeg mendapat tugas mengawal Gunungan pada bagian belakang (Yudodiprojo, 1995).

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Surakarsa adalah Pareanom, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hijau, di tengahnya adalah lingkaran dengan warna kuning. Pareanom berasal dari kata pare (tanaman merambat berwarna hijau yang buahnya jika masih muda berwarna hijau kekuning-kuningan), dan kata anom berarti muda. Secara filosofis Pareanom bermakna pasukan yang selalu bersemangat dengan jiwa muda.

Di wilayah ini terdapat banyak bangunan peninggalan Belanda serta menjadi salah satu Kampung tua di Yogyakarta yang bersebelah langsung dengan Kali Code.

Kecamatan Wirobrajan

Nama Wirabraja berasal dari kata wira berarti berani dan braja berarti tajam, kedua kata itu berasal dari bahasa Sansekerta. Secara filosofis Wirabraja bermakna suatu prajurit yang sangat berani dalam melawan musuh dan tajam serta peka panca inderanya. Dalam setiap keadaan ia akan selalu peka. Dalam membela kebenaran ia akan pantang menyerah, pantang mundur sebelum musuh dapat dikalahkan. Dengan nama kuno dari bahasa Sansekerta secara filosofis diharapkan agar kandungan maknanya mempunyai daya magis yang memberi jiwa kepada seluruh anggota pasukan ini.

Panji-panji/bendera/klebet/dwaja prajurit Wirabraja adalah Gula-klapa, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih, pada setiap sudut dihias dengan centhung berwarna merah seperti ujung cabai merah (kuku Bima). Di tengahnya adalah segi empat berwarna merah dengan pada bagian tengahnya adalah segi delapan berwarna putih.
Gula-klapa berasal dari kata gula dan kelapa. Yang dimaksud di sini adalah gula Jawa yang terbuat dari nira pohon kelapa yang berwarna merah; sedangkan kelapa berwarna putih. Secara filosofis bermakna pasukan yang berani membela kesucian/kebenaran.

Wirobrajan terkenal dengan banyaknya pusat pendidikan dari TK sd Perguruan Tinggi dibawah Pesyarikatan Muhammadiyah, selain itu di wilayah ini terdapat pusat pasar Klithikan yang menjadi salah satu tempat wisata belanja di Kota Yogyakarta.