Pariwisata yang tumbuh dari desa dan kampung wisata bukan hanya tentang atraksi dan kunjungan wisatawan. Di dalamnya ada masyarakat yang menjaga ruang hidup, merawat tradisi, mengelola potensi, serta membangun harapan agar kemajuan pariwisata menghadirkan kesejahteraan yang nyata. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026 yang puncak rangkaiannya ditandai dengan penyerahan penghargaan di Hotel Grand Rohan, Banguntapan, Bantul, Selasa (22/09/2026).

Diselenggarakan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Pariwisata DIY dan dibiayai Dana Keistimewaan, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat sejauh mana desa dan kampung wisata mampu mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. Kepala Dinas Pariwisata DIY menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan, termasuk rangkaian lomba yang dimulai dari pengusulan peserta pada Mei, seleksi administrasi pada Juni, hingga kunjungan lapangan pada Juli–Agustus 2026 oleh tim juri yang diketuai Gusti Kanjeng Ratu Bendara.

Sebanyak 10 desa dan kampung wisata terbaik dari lima kabupaten/kota mengikuti proses penilaian. Evaluasi tidak berhenti pada keindahan lanskap, keunikan atraksi, atau jumlah kunjungan, tetapi mencakup tata kelola, pelestarian sosial budaya, dampak ekonomi, inovasi, serta keberlanjutan lingkungan. Melalui kompetisi yang sehat, perwakilan terbaik juga dipersiapkan untuk naik kelas menuju sertifikasi internasional berstandar Community-Based Tourism (CBT) ASEAN.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY menekankan bahwa lomba ini patut dimaknai lebih jauh daripada sekadar kompetisi. Lomba menjadi instrumen pembelajaran, evaluasi, sekaligus peningkatan mutu pengelolaan destinasi. Masyarakat tidak ditempatkan sebagai objek aktivitas pariwisata, tetapi sebagai pelaku utama yang memiliki ruang untuk merencanakan, mengelola, mengambil keputusan, sekaligus memperoleh manfaat dari perkembangan pariwisata di wilayahnya.

Pesan tersebut menempatkan kualitas tata kelola sebagai bagian penting dari pembangunan pariwisata. Pariwisata yang baik bukan hanya mampu menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal, menjaga kohesi sosial, merawat kebudayaan, dan melindungi lingkungan sebagai ruang hidup bersama. Karena itu, lomba diharapkan terus berkembang menjadi ekosistem pembelajaran antarwilayah, sehingga desa dan kampung wisata yang telah maju dapat berbagi praktik baik, sementara wilayah yang sedang berkembang memiliki ruang untuk belajar.
Penguatan ekosistem tersebut dibangun melalui kolaborasi pentahelix antara pemerintah, akademisi, praktisi/asosiasi, komunitas, dan media. Pemerintah hadir sebagai fasilitator yang membuka akses, memperkuat kapasitas, dan menjaga keberlanjutan, sementara masyarakat tetap menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan potensi wilayahnya.

Gubernur DIY turut menyerahkan penghargaan kepada para penerima. Desa Wisata Sidorejo, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo meraih Juara 1, disusul Desa Wisata Kaji, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Bantul sebagai Juara 2 dan Desa Wisata Garongan, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Sleman sebagai Juara 3. Juara Harapan 1 diraih Desa Wisata Bumi Mataram Pleret, disusul Kampung Wisata Taman sebagai Juara Harapan 2 dan Desa Wisata Gulurejo sebagai Juara Harapan 3. Penghargaan khusus Dampak Ekonomi Terbesar diberikan kepada Desa Wisata Pulesari, Kapanewon Turi, Sleman.

Penghargaan bukan menjadi akhir dari proses, melainkan energi untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberi manfaat yang semakin luas. Sebab, pariwisata yang kuat bukan hanya yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga yang bermartabat bagi masyarakatnya, berdaya saing, dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.










